Thursday, January 25, 2018

3 Kerugian Besar Real Madrid Andai Pecat Zidane

Awan mendung tengah bergelayut di Santiago Bernabeu, kandang Real Madrid. Kekalahan 1-2 dari Leganes di ajang Copa del Rey jadi penyebabnya. Real Madrid terhenti di babak perempatfinal Copa del Rey. Klub semenjana jadi yang menghentikan laju El Real.

Getty Images
Kondisi ini tentu tak bisa diterima pendukung Real Madrid. Perbandingan kekuataan antara Real Madrid dan Leganes di atas kertas bak langit dan bumi. Zinedine Zidane pun dianggap jadi orang yang paling bertanggungjawab karena hasil buruk ini.

Rumor pun berkembang. Zidane dianggap layak untuk dipecat. Sejumlah nama santer diberitakan akan segera gantikan posisi Zidane. Meski kabar teranyar seperti dikutip dari goal.com (25/01/2018) menyebutkan bahwa nasib Zidane akan ditentukan usai laga melawan PSG di ajang Liga Champios.

Namun sebenarnya apapun hasil dari laga PSG, Real Madrid memang wajib tetap mempertahankan Zidane. Mengapa? Berikut ulasannya:


Zidane pelatih yang berkarakter

Meski memiliki sejumlah catatan buruk tidak hanya pada musim ini namun juga pada musim lalu, Zidane layak dipertahankan karena sejumlah faktor. Salah satunya soal karakter dirinya sebagai pelatih.

Rata-rata skuat Real Madrid merasakan betul bagaimana Zidane membangun kekuatan pemain dengan polesan yang kuat. "Zidane sudah menangani tim ini dengan sangat baik," kata Dani Carvajal seperti dikutip dari Football Espana.

Tidak hanya Carvajal, Ronaldo pun menilai Zidane memiliki karakteristik kuat untuk bisa membawa Real Madrid sebagai juara. Hal senada juga sempat dilontarkan eks pemain Timnas Spanyol, Luis Garcia. “Dengan Zidane, segalanya berjalan dengan baik di awal, seperti pada umumnya terjadi pada tim yang mengubah pelatih," kata Garcia seperti dikutip dari fourfourtwo.com

Pelatih yang belajar dari kesalahan

Zidane bukan tipikal pelatih jumawa ataupun pelatih yang keras kepala dengan taktik. Zidane sepanjang musim melatih Real Madrid selalu memberikan terobosan anyar dan brilian pasca El Real alami kekalahan.

Kondisi itu bisa dilihat saat El Real menang di final Liga Champions dan meraih titel ke-11 klub ini. Dikutip dari detik.com (25/01/2018), Real Madrid yang menang adu penalti di laga itu melawan Atletico Madrid menerapkan permainan yang berbeda.

Getty Images
Cara yang dilakukan Zidane saat itu identik dengan apa yang sering dilakukan Atletico Madrid bersama Simeone. Zidane terbukti banyak belajar dari kekalahan Real dari Atletico Madrid di La Liga. Ia memilih untuk tidak bermain seperti Barcelona, Bayern, bahkan gaya Real Madrid itu sendiri. Zidane memilih untuk meniru apa yang dilakukan Atleti, dan itu berhasil mengantarkan undecima bagi Real Madrid.

Pelatih yang membawa era kegelapan jadi era keemasan

Zidane datang ke Madrid pada 2001. Saat itu Real Madrid tengah alami keterpurukan. Zidane secara perlahan namun pasti membawa Real Madrid dari era kegelapan menuju era keemasan. Tak mudah bagi seorang pelatih berada di tim besar namun di kondisi keterpurukan dan kemudian 'menyulapnya' menjadi era keemasan. Zidane mampu melakukan itu.

Getty Images
Maka tak salah jika legenda sepakbola Denmark dan Real Madrid, Michael Laudrup menganggap Zidane memang pelatih yang coock untuk Real Madrid.

“Dia datang pada periode yang sulit, dia telah mencapai sesuatu untuk pertama kalinya dalam sejarah Liga Champions sejak dimulai pada tahun 1993 dengan menjadi tim pertama yang memenangkan dua Liga Champions beruntun dan mereka juga memenangkan Liga Spanyol. Jadi aku pikir dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa musim ini,” kata Laudrup seperti dikutip dari Omnisport (25/01/2018).


Reference

No comments:

Post a Comment